ORANG YANG MENGHADAPI MATI MELIHAT BERBAGAI PEMANDANGAN


Oleh : H. Ramli Abdul Wahid

Salah satu sebabnya orang kurang mengamalkan Agama adalah karena lupa atau kurang yakin kepada mati. Padahal mati itu pasti dan kezaliman yang dilakukan manusia baik terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri pasti akan dibalasi sesudah mati. Sekiranya orang yakin akan balasan yang akan diperolehnya sesudah mati, pastilah ia tidak berani melakukan maksiat. Memang balasan sesudah mati itu tidak dapat dilihat dan belum pernah pula kejadian orang mati bangkit dari kuburnya. Namun, pengalaman-pengalaman orang yang pernah hampir mati atau mungkin disebut mati suri bisa menjadi saksi bahwa kejadian yang mereka alamai selamat mati suri itu, sementara orang yang menghadapi mereka tidak melihatnya. Pengalaman-pengalaman orang mati suri atau bahkan sudah dianggap mati benaran, tetapi kembali hidup untuk beberapa saat dinukilkan berikut dari buku Pedoman Mati karya H.M. Arsyad Thalib Lubis.

Orang yang dekat mati selalu melihat berbagai pemandangan sedang orang yang hadir di dekatnya tidak melihatnya. Setan–setan pada ketika itu datang menggoda untuk menyesatkan dan mereka menyamar dengan berbagai rupa, termasuk rupa leluhur orang yang sedang hampir mati itu.

Umar bin Khattab ra. Berkata, “Uhdhuru mautakum wa zakkiruhum fainnahum yarauna ma la tarauna, wa laqqinuhum la ilaha illallah” Artinya: “Hadiri kamulah orang–orang yang dekat mati di antara kamu dan ingatkanlah mereka karena mereka melihat yang tidak kamu lihat dan ajarkanlah kepada mereka : La ilaha illallah.”

Hal itu dapat dibuktikan dengan kejadian–kejadian yang telah berlaku. Misalnya seorang yang telah pingsan atau yang ditimpa penyakit yang kuat dan diduga ia telah mendekati ajalnya, tetapi tidak jadi mati. Setelah ia sadar atau setelah sehat kembali ia menceritakan berbagai pemandangan yang dilihatnya pada ketika pingsan atau sakit kuat itu.. Sebagai contoh adalah beberapa kejadian disebutkan berikut ini:

  1. 1. Syeikh Ibnu `Arabi menerangkan bahwa ia mengetahui seseorang di Tunisia bahwa ditalkinkan ketika ia hendak mati dan matanya sudah tegak. Ia menjawab, “Tidak !” sedang ia seorang yang saleh. Maka orang merasa khawatir akan halnya yang demikian. Kebetulan ia masih kembali siuman sehingga dapat memberikan keterangan kepada orang–orang yang hadir bahwa setan–setan telah datang kepadanya seperti rupa neneknya yang sudah mati seraya berkata,”Jauhilah Islam! Matilah sebagai Jahudi atau Nasrani karena itulah yang lebih dapat menyelamatkan.” Ia lalu menyahut : “Tidak!” Dengan demikian—katanya– Allah telah menyelamatkannya dari godaan mereka.

Dalam kejadian itu ternyata bahwa orang tersebut melihat setan datang menggodanya, sedang orang–orang yang berhadir di dekatnya tidak melihat dan mengetahuinya. Seandainya ia tidak dapat memberikan penjelasan kepada orang-orang yang hadir itu, kejadian tersebut dapat menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak baik terhadap dirinya. Karena pada ketika ia ditalkinkan, ketika itu pula setan menggodanya sehingga penolakannya terhadap godaan setan tersebut, memungkinkan pula menimbulkan dugaan orang-orang yang hadir bahwa ia menolak kalimat tauhid itu.

  1. 2. At-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Umar ra., katanya: Abdullah bin Rawahah pingsan. Lalu seorang perempuan berdiri meratapinya. Setelah ia sadar kembali, Rasulullah saw. datang melihatnya. Abdullah berkata,  “Ya Rasulallah, aku pingsan, maka perempuan-perempuan berteriak mengatakan: O, penghibur! O, gunung! Lalu seorang malaikat berdiri memegang sebatang besi, dan meletakkan di antara kedua belah kakiku sambil berkata, “Benarkah engakau seperti yang dikatakannya? Aku menyahut, “Tidak! Seandainya aku mengakuinya niscaya aku dipukulnya denga besi itu.
  2. 3. At-Thabarani meriwayatkan lagi dari Al-Hasan bahwa Mu`az bin Jabal ra. pingsan. Maka seorang saudaranya perempuan mulai mengucapkan O, gunung!

Tatkala ia telah sadar kembali, katanya: Mulai hari ini engkau terus menerus menyakitiku. Sahut saudaranya: sungguh amat beratlah bagiku menyakiti engkau. Katanya, “Seorang malaikat senantiasa dekat padaku. Tiap-tiap kali engakau mengatakan “O, gunung”, ia berkata,  “Benarkah engakau begitu? Maka aku menyahut,  “Tidak!”

  1. 4. Ketika Imam Abu Ja`far al-Qurthubi dekat wafat, orang mengatakan kepadanya: Ucaplah La ilaha illallah. Ia lalu berkata: “Tidak!” Sewaktu ia telah sembuh diceritakan orang kejadian tersebut kepadanya. Jawabnya, “Dua orang setan datang kepadaku, seorang sebelah kananku dan seorang sebelah kiriku. Seorang di antaranya berkata,  “Matilah dalam agama Jahudi, karena itulah agama yang terbaik. Sedang seorang lagi berkata: Matilah dalam agama keristen, karena itulah agama yang terbaik.

Aku selalu berkata kepada keduanya : Tidak! Kamu jangan mengatakan ini kepadaku. Aku telah menuliskan dengan tanganku sendiri di dalam kitab At-Tirmizi dan An-Nasai dari Nabi saw. bahwa setan akan datang kepada salah seorang diantara kamu sebelum ia mati. Setan itu berkata kepadanya: Matilah dalam agama Jahudi! Matilah dalam agama Kristen! Aku lalu menjawabnya, “Tidak! Jawabanku itu bukanlah untuk kamu

  1. 5. Abdullah anak Imam Ahmad bin Hanbal menceritakan bahwa ketika Imam Ahmad telah dekat wafat, ia telah memegang secarik kain untuk pengikat dagunya jika ia telah wafat. Imam Ahmad ketika itu telah berkeringat, kemudian ia sadar kembali. Lalu katanya, “Tidak, Jauhlah! Tidak, Jauhlah!” Ia mengucapkan yang demikian berulang-ulang kali. Aku lalu bertanya kepadanya, “Wahai ayahku, apa maksud ucapan ayahku yang demikian? Sahutnya, “Seorang setan berdiri setentang dengan aku sambil menggigit jarinya, katanya, “Hai Ahmad, cobalah uji aku dan tarik kepadamu! Aku menjawab kepadanya,  “Tidak, Jauhlah! Tidak, Jauhlah! Hingga aku mati.
  2. 6. Pada beberapa tahun yang lalu, seorang pemimpin komunis yang terkemuka di Medan ditimpa penyakit yang berat. Lalu dokter melakukan pembedahan kepadanya di sebuah rumah sakit. Oleh karena itu ia dilarang dokter menggerakkan badannya dalam beberapa hari.

Dengan tidak diduga-duga, setelah pembedahan itu, ia tiba-tiba bangun bergerak sekuat tenaganya. Menurut keterangannya ia melihat seekor anjing hitam yang besar yang hendak menerkamnya. Sebab itulah ia bergerak hendak menyingkirkan diri, dari terkaman anjing yang dilihatnya itu. Sedang orang-orang yang berhadir di dekatnya tidak melihat anjing itu sama sekali. Oleh karena gerakan badannya yang kuat itu, penyakitnya semakin bertambah berat dan tidak lama antaranya ia pun mati.

  1. 7. Satu kejadian lagi yang menyatakan bahwa orang yang dekat mati melihat berbagai pemandangan, sedang orang-orang di dekatnya tidak melihatnya, dikemukakan kisah yang mengenai Kiyai Fat-hul Bari. Peristiwa tersebut terjadi di desa Telanger, Soko Hanah, Simpang (Madura), pada petang hari Ahad tanggal 9 Agustus 1970. Kiyai Fat-hul Bari lebih dahulu menghadapi saat-saat sakaratul maut, kemudian orang-orang yang berhadir menganggap ia telah mati.

Setelah 45 menit ia dianggap mati, tiba-tiba di tengah orang yang kesedihan dan kaum keluarga yang menangis, tubuh Kiyai Fat-hul Bari nampak mulai bergerak dan nafasnya mulai turun naik. Dalam beberapa menit lamanya ia belum dapat berbicara. Kemudian itu nyatalah ia hidup lagi.

Dalam keadaan telah sadar kembali itu, wartawan Harian Abadi yang datang ke rumahnya sempat mengadakan pembicaraan dengan dia yang di dampingi oleh anaknya Fathullah. Atas pertanyaan wartawan Harian Abadi, Kiyai Fat-hul Bari menerangkan antara lain pengalamannya selama dalam keadaan diduga telah mati itu sebagai berikut :

“Terasalah badan saya sangat panas. Terasa haus dan lapar yang tiada taranya. Di saat itulah saya melihat ada orang yang wajahnya serupa dengan nenek saya yang sudah lama meninggal dunia. Sambil memperlihatkan kepada saya tempat yang berisi air dan makanan yang sangat saya perlukan, orang itu berkata,  “Kalau engkau mau menerima pemberian saya ini, tentu engkau masuk surga seperti halnya saya dulu, dapat masuk surga karena menerima pemberian yang serupa ini. Tetapi tawaran dan pemberian yang dipaksa-paksa itu, saya tolak.

Saya melihat segala catatan kebaikan dan keburukan. Apabila saya melihat kepada yang buruk, sangatlah mengerikan dan menakutkan saya.

Pada ketika itu saya merasa tidak berada di alam dunia ini. Dan pada waktu itu pula bekas tarikan nafas dan keluar Roh dari tubuh saya sangat terasa, seakan-akan tubuh saya hancur luluh. Ratap tangis dan jeritan orang sangat mengganggu jasad yang hancur itu. Apalagi kalau mereka banya bicara dan mengerjakan sesuatu yang bersuara, tubuh saya terasa seakan-akan ditusuk dengan pisau tajam yang mengandung racun.

Ketika saya dibaringkan, saya melihat kaum keluarga dan saudara-saudara yang datang bertakziah. Mereka tak menghiraukan betapa hancur luluhnya jasad saya. Sakitnya pencabutan Roh masih sangat terasa. Harapan saya ketika itu untuk mendapatkan siraman yang mendinginkan, tak terpenuhi. Malahan mereka bertindak menambah berat penderitaan sakit saya.

Saya seakan-akan dibawa melayang ke alam luas oleh sejumlah orang yang berperawakan tinggi besar dan menakutkan. Saya dibawa kesebuah ruangan besar yang berbau busuk. Ditempat itu saya lihat sudah berkumpul laki-laki dan perempuan yang keadaannya sangat menyedihkan.

Ketika saya dilihat oleh petugas yang menjaga tempat itu, yang berperawakan tinggi besar, ia mengatakan kepada saya: “ini bukan tempatmu, disanalah tempatmu”, sambil menunjuk ketempat yang lain. Kemudian saya dibawa ketempat itu. Keadaannya jauh lebih baik dari tempat yang pertama. Tetapi di sini pun saya ditolak juga, tidak diperkenankan masuk, karena bukan tempat saya. Dengan penolakn ini, mungkin Yang Maha Kuasa belum menakdirkan saya pulang kerahmatullah pada saat itu.

Pada saat ditolak di tempat yang kedua ini, K.Fat-hul Bari tersadar kembali, setelah Rohnya dirasakannya melayang lebih kurang empat puluh lima menit. Ia nampak termenung dan tidak suka berbicara, hanya berzikir kepada Allah, sedang penyakit yang di deritanya selama ini tetap dirasakannya.

Ia sadar kembali selama dua puluh empat jam. Pada tanggal 10 Agustus 1970, setelah ia menyampaikan wasiatnya kepada kaum keluarganya dengan sempurna, ia telah benar-benar mati dalam usia 65 tahun. Janazahnya dikuburkan dengan mendapat perhatian yang amat besar dari penduduk di tempat itu.

Tentang ramliaw

fisabilillah dijalan Allah swt
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s