Kamus Hadis-hadis Populer

Oleh : Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA

Untuk makna popular, dalam bahasa Arab digunakan kata masyhur. Dalam terminologi hadis, masyhur berarti hadis yang jumlah periwayatnya pada setiap generasi dalam sanad terdiri dari lebih dua or¬ang mulai dari penghimpunannya sampai kepada generasi sahabat. Kekuatan badis yang masuk da¬lam kelompok ini berada di ba¬wah peringkat hadis mutawatir dan di atas peringkat hadis ahad. Narnun demikian, secara bahasa kata masyhur digunakan juga untuk hadis-hadis yang populer dan banyak beredar da¬lam pembicaraan orang seka¬lipun status hadis itu lemah atau bahkan maudhu.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN RUSAKNYA UKHUWAH

Oleh : Prof.H. Ramli Abdul Wahid

Cinta sesama kaum Mukmin, bersatu, dan bersaudara adalah sesuatu yang agung dan mulia. Allah Azza wa Jalla menjadikan ukhuwah (persaudaraan) sebagai karakter (ciri) kaum Mukminin di dunia dan akhirat. Allah Ta`ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al-Hujuraat : 10)
Allah Ta`ala juga berfirman,
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Al-Hijr : 47)
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENGALAMAN ANEH DALAM MASYARAKAT

Oleh: Prof. DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Pendahuluan
Banyak informasi Al-Quran dan Hadis tentang hal gaib, baik dalam kehidupan dunia maupun sesudah mati yang tidak dapat diamati dengan pancaindra dan tidak pula dapat dieksperimen sehingga tidak dapat diterima orang yang tidak beriman. Bahkan, orang Mukmin juga ada yang merasa terpaksa percaya kepadanya. Akalnya tidak dapat menerimanya, tetapi karena masih ragu untuk keluar dari Islam, sementara hal itu diberitakan Al-Quran dan Hadis serta para guru pun mewajibkannya untuk beriman, ia pun mengaku percaya walaupun hatinya tetap ragu.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

HUKUM BUNGA BANK DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh: Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA
Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Tk. I MUI-SU

A. Riba Haram
Dalam kamus al-Mu`jam al-Wasith, jilid I karya Dr. Ibrahim Anis dkk. dijelaskan bahwa riba secara etimologis berarti kelebihan dan tambahan (al-fadhl wa az-ziyadah), sedang menurut syarak adalah kelebihan (tambahan) tanpa imbalan yang disyaratkan kepada salah satu dari dua orang yang melakukan akad. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam jilid V, karya Drs. H. A. Hafizh Dasuki, MA, dkk dijelaskan bahwa para ulama fikih mendefinisikan riba sebagai “Kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan/gantinya.” Maksudnya, tambahan terhadap modal uang yang timbul sebagai akibat suatu transaksi utang piutang yang harus diberikan terutama kepada pemilik uang pada saat utang jatuh tempo.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

AKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMAAH

Oleh : Prof. DR. H. RAMLI ABDUL WAHID, MA

1. Pendahuluan

Ungkapan Ahlussunnah waljamaah terdiri dari tiga kata bahasa Arab, yaitu ahl, sunnah, dan al-jama`ah. Ahl berarti keluarga, kelompok, dan golongan. Sunnah berarti Sunnah atau Hadis Nabi saw. Al-Jama`ah berarti ramai, banyak, mayoritas. Ahlussunnah waljamaah maksudnya golongan yang tatap berpegang pada Sunnah Nabi saw. yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Istilah ini berhubungan dengan hadis yang artinya, “Umatku akan terpecah kepada 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Ahlussunnah waljamaah.” Secara tekstual, hadis ini dipahami oleh golongan Ahlussunnah waljamaah bahwa pahamnya sajalah yang benar dan penganutnya akan masuk sorga. Dari pemahaman inilah turun istilah di Indonesia, ASWAJA yang mak-sudnya Ahlussunnah waljamaah saja.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

METODE PENELITIAN SANAD HADIS

Oleh : DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Pendahuluan
Usaha untuk membedakan antara hadis sahih dari hadis daif pada dasarnya dilakukan melalui dua aspek, yaitu aspek sanad dan aspek matan. Pembahasan dalam tulisan ini khusus mengenai penelitian Hadis dari aspek sanad yang dike-nal dengan sebuatan takhrij atau penelitian langsung terhadap kualitas sanad. Sa-nad adalah rangkaian nama para periwayat dari satu hadis, mulai dari sahabat sebagai generasi pertama menerimanya langsung dari Rasul saw., tabii sebagai generasi yang menerimanya dari sahabat sampai kepada orang yang membuku-kannya, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DEPRESI DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : Prof. DR.H.Ramli Abdul Wahid, MA

A. Pengertian Depresi
Secara bahasa, depresi berarti gangguan jiwa pada sesorang yang ditandai dengan perasaan yang menurun, seperti muram, sedih, dan perasaan tertekan. Yang namanya sedih bisa ringan, bisa berat, dan bisa berat sekali sampai kalut dan tak tertahankan sehingga meronta-ronta. Secara umum orang tidak membedakan antara depresi dan stress. Padahal, secara terminologi kesehatan, stress berarti terganggunya faal tubuh sebagai akibat ketidakmampuan sesorang mengatasi atau menyesuaiakan diri dengan problem yang dihadapinya. Misalnya karena mendengar tiba-tiba berita meninggalnya keluarga dekat, seseorang menjadi pusing, sering buang air besar atau buang air kecil, kedinginan, dan menggigil. Ini adalah gejala stres karena yang terganggu adalah jasmani. Jika yang terganggu pada jiwa, seperti sedih yang bersangatan atau bingung atau kalap sehingga tidak mampu berpikir serta kehilangan kesadaran normal dan bahkan melakukan tindakan bunuh diri, ini disebut depresi. Jika ketergangguan pada jiwa menyebabkan ketergangguan pada pisik, maka ini disebut psikosomatik.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

HADIS-HADIS TENTANG FADHA’IL AL-A’MAL DAN KAITANNYA DENGAN AMALAN PUASA RAMADAN

A. Pengertian Fadha’il al-A`mal
Fadha’il adalah bentuk jamak dari kata bahasa Arab, fadhilah yang artinya keutamaan-keutamaan atau kelebihan-kelebihan. Al-a`mal adalah bentuk jamak dari kata `amal yang artinya amal atau ibadah. Satu ibadah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek wujud ibadah itu sendiri dan aspek keutamaannya atau pahalanya. Kedua aspek ini harus mempunyai dalil. Dalil pokok untuk ajaran Islam adalah Alquran dan Hadis. Dalil wujud ibadah harus kuat, yaitu ayat Alquran atau hadis yang sahih atau hadis hasan. Hadis daif tidak bisa menjadi dalil wujudnya suatu amal atau ibadah. Sementara dalil untuk fadha’il al-a`mal menurut sebagian ulama tidak mesti hadis yang sahih atau hasan, melainkan boleh juga hadis daif dengan syarat-syarat tertentu. Demikian juga fadhilah waktu ibadah tertentu, sepertri fadhilah bulan barakah Ramadan.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

NABI-NABI PALSU

ALIRAN DAN PAHAM DALAM SEJARAH ISLAM
Oleh : PROF. DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Sejarah Ringkas
Kajian Islam terbagi kepada berbagai bidang ilmu yang antara lain adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tawhid, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Ilmu kalam membahas tentang Tuhan, rasul-rasul, wahyu, akhirat, iman dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Ilmu kalam disebut juga ilmu usuluddin, ilmu `aqa’id, dan teologi. Dalam mengkaji dan membahas materi ilmu kalam ini terdapat bermacam-macam cara memahaminya di kalangan umat Islam. Paham yang lahir dari suatu cara memahami materi ilmu kalam ini dalam bahasa Arab disebur firqah yang jamaknya firaq. Firqah dalam bahasa Indonesia disebut aliran. Aliran-aliran dalam ilmu kalam disebut dalam bahasa Arab al-firaq al-Islamiyah. Untuk aliran dalam fikih disebut mazhab. Namun, belakangan penggunaan sebutan-sebutan ini sudah tidak terlalu ketat lagi sehingga kata mazhab kadang-kadang sudah digunakan oleh sementara orang untuk maksud aliran dalam ilmu kalam.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

HUKUM SALAT JAMAK DAN QASAR

(SEBELUM BERANGKAT, SELAMA MUSAFIR, DAN SETELAH KEMBALI)
Oleh : PROF. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Kemudahan dalam Islam
Islam adalah Agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagai manusia, Muslim tidak selamanya berada di tempat tinggalnya. Ka-dang-kadang ia sedang menempuh perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak jauh atau musafir sedikit banyaknya akan menghadapi kesu-litan. Di antaranya kesulitan mencari air, kesulitan mencari tempat salat, dan kesulitan menjaga kebersihan pakaian dan sebagainya. Is-lam memperhatikan keadaan manusia. Karena itu, dalam Islam ada yang disebut hukum `azimah (dasar) dan ada yang disebut rukhshah (kemudahan). Dalam keadaan normal, berlaku hukum `azimah dan dalam keadaan tidak normal selalu berlalu hukum rukhshah.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar