ISLAM DAN PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA


Oleh : Prof. Dr.H.Ramli Abdul Wahid, MA

Setiap tahun umat manusia memperingati hari direncanakannya Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanggal 10 Desember 1948.
Hak-hak asasi manusia menurutnya berpokok pada 8 macam hak utama, yaitu : kebebasan memeluk agama dan melaksanakan ibadah, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan bekerja, kebebasan belajar, kebebasan sipil, hak mendapat perlindungan jiwa, hak perlindungan harta dan hak perlindungan kehormatan.

Beberapa negara demokrasi modern seperti Inggris dan Perancis mengaku berjasa dalam mendeklarasikan HAM ini. Padahal kalau kita jujur Risalah Muhammad saw. 14 abad sebelumnya telah memprklamirkan HAM ini dalam rangka mengangkat harakat dan martabat manusia dan mereformasi masyarakat dari berbagai isinya. Jadi agama Islam adalah agama yang paling pertama dan utama dalam mendeklarasikan HAM ini baik dari segi historis, kualitas, dan keluasan cakupannya.
HAM menurut konsep Islam telah ada sejak kelahiran Islam itu sendiri. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menjelaskan pentingnya penegakan HAM, antaralain adalah :
1. Hak hidup dan keselamatan diri, hak memperoleh lindungan diri, kehormatan dan harta, sebagaimana bisa dilihat dalam Alquran Surah Al-Maidah ayat 32, dan Al-An`am ayat 151, yang intinya adalah tentang “larangan membunuh” tanpa alasan yang dibenarkan agama, karena manusia memiliki hak hidup.
2. Hak untuk memperoleh perlindungan diri, kehormatan dan rumah tangga, dalam surat An-Nur ayat 27-28, intinya izin masuk rumah orang lain.
3. Hak merdeka beragama (HAM yang paling asasi), diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 256, Yunus ayat 99, An-Nisa ayat 47, kesemua ayat itu menjelaskan tidak boleh memaksakan agama kepada orang lain dan perlindungan kepada semua pemeluk agama.
4. Hak memiliki hak milik, da fungsi sosial dari hak milik itu. Surat An-Nisa ayat 32, Ali-Imran ayat 189 dan Al-Baqarah 255. Intinya bahwa manusia memperoleh hak ekonominya sesuai apa yang dihasilkannya, tetapi dari hasilnya itu ada juga yang menjadi hak milik orang lain atau berfungsi sosial, yakni yang harus diberikan kepada yang berhak menerima.
5. Memperoleh pekerjaan yang layak, sesuai dengan kemanusiaan. Surat Al-Mulk 15. Intinya bumi diciptakan Allah untuk kebeikan manusia tetapi manusia harus mengambil inisiatif sendiri secara bebas untuk menentukan pilihan terhadap pekerjaanya.
6. Hak memperoleh kemerdekaan berfikir, berpendapat, dan hak memperoleh pendidikan dan pengajaran. Surat Al-A`raf ayat 179, An-Nisa ayat 148, At-Taubah 122. Intinya kebebasan manusia dalam berfikir, berpendapat dan memperoleh ilmu pengetahuan mutlak yang diberikan Allah kepada manusia, tetapi ada batasan fungsi untuk umum dimana kebebasan itu berkaitan dengan kepentingan umum dalam rangka menciptakan kemaslahatan manusia itu sendiri atau keseempurnaan akhlak yang memiliki hak itu sendiri (Tim MG Bina Kewarganegaraan, 2004 : 52)
Manusia adalah ciptaaan Allah Yang Maha Esa yang mempunyai martabat yang tinggi. Karena itu manusia sebagai makhluk ciptaan Allah mempunyai hak asasi yang melekat pada dirinya agar harga diri dan nilai kemanusiaan yang ada pada dirinya terjaga.
Penegakan hak-hak asasi manusia merupakan tanggung jawab kita bersama, artinya semua warga masyarakat harus menghormati dan menghargai hak-hak asasi orang lain sekaligus selalu berusaha mempejuangkan hak asasi orang lain dan tidak hanya memperjuangkan hak asasinya sendiri.
Oleh sebab itu, hendaklah masing-masing warga masyarakat memahami hak-hak asasinya dan mengetahui dengan jelas langkah penerapannya. Atas dasar itu maka pada umat Islam dimanapun berada senantiasa melindungi hak-hak asasinya, dan tidak sekali-kali melanggar hak asasi orang lain. Untuk menjabarkan masalah itu maka pada tanggal 21 Dzulqa`idah 1401H (19 September 1981), para ulama dan pakar Islam mengadakan muktamar di London untuk melihat rincian hak-hak asasi yang dideklarasikan Islam 15 abad yang lalu dalam Alquran. Muktamar tersebut meringkas HAM dalam Islam sebagai berikut : 1. Hak hidup, 2. Hak mendapat kebebasan, 3. Hak persamaan, 4. Hak mendapat keadilan, 5. Hak mendapat perlakuan pengadilan yang adil, 6. Hak mendapat perlindungan dari penyiksaan, 7. Hak mendapat perlindungan atas kehormatan dan nama baiknya, 8. Hak mendapat suaka di negara Islam, 9. Hak mendapatkan kebebasan dalam berfikir, memeluk suatu keyakinan dan kebebasan berpendapat, 10. Hak ikut serta dalam kehidupan umum, 11. Hak untuk menghormati hak-hak kelompok minoritas, 12. Hak kebebaasan beragama, 13. Hak berdakwah dan menyampaikan ajaran, 14. Menikmati hak-hak ekonomi, 15. Hak mendapat perlindungan milik pribadi, 16. Hak mendapat pekerjaan, 17. Hak mendapat kebutuhan pokok untuk hidup layak, 18. Hak untuk membangun keluarga, 19. Hak mendapatkan pendidikan yang layak, 20. Hak masing-masing suami dan istri, 21. Hak individu untuk mendapatkan perlindungan hal-hal khusus priadinya, 22. Hak untuk bepergian dan bertempat tinggal (Dr. Ashim Ahmad Ujailah, Al hurriyah al fikriyah, Nahdhoh Misr, hal. 13-14 dalam Ahmad Satori dkk: 64-65).
Bila diteliti secara cermat, ringkasan HAM dalam Islam di atas, kita dapatkan hak-hak tersebut amat luas dan mencerminkan kebutuhan utama manusia yang harus dijunjung tinggi rakyat dan penguasa. Berbeda dengan HAM versi PBB, HAM dalam Islam bila dilanggar, pelakunya akan diberi sanksi hukum di dunia dan siksa di akhirat setelah mati. Dua macam sanksi inilah yang menjadi HAM dalam Syari`ah Islamiyah kedudukan tinggi dan amat ditaati pengikutnya.
HAM versi PBB yang tidak mengenal sanksi ukhrawi ini akan mudah dilanggar oleh banyak negara. Saat HAM dideklarasikan pada tahun 1948, terdapat satu bangsa secara keseluruhan yang diinjak-injak hak-haknya oleh Israel. Barat cuma berpangku tangan dan bahkan mendukung Israel yang merampas hak-hak bangsa Palestina. Kita sering menyaksikan, negara-negara yang sering mengangkat panji demokrasi dan HAM ternyata mempraktekkan ras diskriminasi dalam semua bidang kehidupan. Baik dalam hak-hak bidang politik, bidang pendidikan dan pemanfaatan fasilitas umum atau pun fasilitas sosial.
Daalam deklarasi HAM versi PBB yang dibanggakan barat dan menimbulkan revolusi di dunia kebebasan dan perlindungan kemanusiaan, ternyata belum menyantumkan banyak hak-hak kebebasan yang dibutuhkan umat manusia. Sebagai contoh hak masing-masing dari suami dan istri dalam keluarga dan setelah cerai. Hak kedua orangtua, hak orang miskin, hak qisas dan sebagainya.
Ada hal penting yang ingin saya isyaratkan bahwa bicara tentang hak asasi tidak termasuk dalam kajian bidang syari`ah dan perundang-undangan, khususnya perundang-undangan yang mengatur kehidupan manusia dan hubungan sosialnya.
Lain dari pada itu, dari sisi akhlak yang amat erat hubungannya dengan manusia, HAM versi PBB mencantumkan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak dan undang-undang secara umum. Hal ini sering dikritik oleh para ahli. Diantaranya adalah apa yang tercantum pada pasal 2 ayat 14 dinyatakan bahwa hak-hak ini tidak bisa digunakan untuk menuntut ke pengadilan dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan masalah politik atau dalam hal yang bertentangan dengan tujuan PBB.
Agama Islam adalah agama yang tegas dan menunjung tingggi persamaan dan keadilan. Oleh sebab itu Islam menghalangi sebagian hak dan membeda-bedakannya antara satu hak dengan lainnya. Setiap manusia memiliki hak sempurna untuk menuntut haknya dan kebebasannya baik kafir atau orang zalim. Bahkan mungkin si kafir dan si zalim tadi amat membutuhkan hak-hak itu ketika dia dituduh dengan berbagai kriminalitas yang dilakukannya.
Islam tidak mengenal ras diskriminasi. Semua manusia berkedudukan sama dan sejajar. Yang membedakan cuma ketakwaannya saja. Sebagaimana firman Allah Surah Al-Hujurat ayat 13 yaitu :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu.”
Dalam pandangan Islam, tidak ada perbedaan antara pejabat tinggi dan rakyat rendah, antara pimpinan dan bawahan, antara konglomerat dengan orang yang melarat, antara yang kaya dengan yang miskin papa. Semua sama dalam pandangan Allah. Nilai tertinggi dalam Islam bukan terletak pada pangkat, jabatan, dan harta kekayaan, namun ukur ketinggian derajat hanyalah diukur dengan kesalehan amal dan ketakwaannya. Rasulullah bersabda : man sarrahu an yakuuna akraman naasi fal yattaqillaha. “Barangsiapa yang suka menjadi orang yang paling mulia diantara manusia maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah”

Tentang ramliaw

fisabilillah dijalan Allah swt
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s