JIHAD, BUKAN TEROR


Oleh : Prof. Dr.H.Ramli Abdul Wahid, MA

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang keliru memahami makna jihad. Baik dikalangan muslim atau non muslim. Bahkan, pelaku bom bunuh diri, mereka merasa melakukan jihad dan matinya syahid. Sebelum memahami pengertian jihad dengan benar, berdasarkan Alquran, perlu diketahui terlebih dahulu makna teror. Teror yaitu penggunaan kekerasan, untuk menimbulkan ketakutan, dalam mencapai suatu tjuan, terutama tujuan pplitik, seperti adanya gerombolan yang membakar dan membumihanguskan bangunan, keyakinan, atau etnis (KBBI, hal. 939). Contoh dari tindakan tersebut, misalnya perbuatan yang dilakukan teroris di Bali, dan beberapa tempat di Indonesia.

Makna Jihad

Jihad berasal dari Bahasa Arab “jahada” yaitu sesuatu perjuangan keras untuk mencapai suatu cita-cita. Laksana seekor keledai yang sudah berat muatannya, tapi masih ditambah lagi, sehingga ada kesan, betapa beratnya (Mukhtar al-Shihah hal. 114). Misalnya, mahasiswa yang berjuang keras, harus kuliah sambil bekerja, hingga berhasil menjadi seorang sarjana. Demikian juga jamaah haji yang harus membayar dengan biaya yang mahal, melakukan ibadah sesuai syar`i, barulah kemudian dia akan mencapai haji mabrur. Termasuk di dalamnya berjuang membela agama, berupa menyediakan tenaga, bantuan materi, makanan, dan obat-obatan, tindakan tersebut disebut “jihad fi sabilillah” (berjuang membela di jalan Allah).

Tafsir al-Manar, memasukkan beberapa kategori sabilillah, termasuk di dalamnya adalah berjuang membangun masjid, madrasah, rumah sakit dan mengentaskan kemiskinan. Karena konotasi berjuang adalah jihad, maka artinya juga mendekati perang (war), tapi bukan berarti qital atau battle (pertempuran).

Al-Asfahani membagi jihad menjadi 3 bagian, yaitu : berjihad melawan musuh yang lahir, berjihad melawan musuh yang batin (setan), berjihad melawan musuh yang ada dalam diri sendiri (hawa nafsu) (al-Mufradat, hal. 101).

Menurut pengertian asalnya, jihad itu berarti berjuang dan berperang melawan kemiskinan, kezaliman, kebodohan, dan kekerdilan akidah, demi mencapai kejayaan hidup yang wajar. Nabi pernah bersabda, “jihad yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu” (HR. Muslim). Sedang amal terbaik, urutannya adalah shalat pada waktunya, kemudian berbuat baik kepada kedua orangtua, lalu berjihad di jalan Allah (kemaslahatan masyarakat) (HR. Bukhari Muslim).

Di dalam Alquran, perintah berjihad dalam arti berperang membela agama Allah, apabila orang kafir menginjak-injak Islam adalah dibatasi. Alquran menyebutkan, “tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin semuanya pergi (ke medan perang), mengapa tidak ada tiap golongan diantara mereka pergi sebagian, untuk memperdalam pengetahuan mereka, yang akan memperingati dan mengajarkan kaumnya, apabila mereka telah kembali?” (QS. 9: 122).

Ayat di atas diperkuat lagi oleh sebuah hadis yang meriwayatkan, ketika beberapa pemuda yang menawarkan dirinya ikut berjihad, justru ditanya, apakah masih ada orang tua yang perlu dijaga kesehatannya? Jika masih ada, lebih baik berjihad dengan orang tua saja, yakni dengan menjaganya (HR. Abu Dawud). Artinya, jihad menurut Alquran dan sunnah tidak selalu berarti perang, kadang-kadang berarti berjuang mencapai ibadah yang mantap, dan kadang berarti mencari ilmu yang berguna, demi melayani kemaslahatan masyarakat.

Makna Qital

Dalam Alquran, jihad yang berarti pertempuran, dinamakan dengan “qital” (berbunuh-bunuhan) terhadap orang kafir yang telah memaklumkan perang terhadap Muslim. Salah satu ayatNya berbunyi, “telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang telah diperangi (lebih dahulu), karena sesungguhnya mereka telah dianiaya, yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka, tanpa alasan yang benar, kecuali mereka berkata, Tuhan kami hanyalah Allah. Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia, tentulah dirubuhkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak tersebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong yang menolong agama-Nya” (QS. 22: 39).

Berdsarka ayat di atas, maka seorang muslim diizinkan mengangkat senjata, yaitu ketika (1) jika telah diserang terlebih dahulu, (2) jika dizalimi, (3) atau jika diusir dari kampung halamannya. Tapi, dengan peringatan (1) Tidak boleh mengganggu tempat-tempat ibadah orang Nasrani, Yahudi, dan Muslim; (2) Tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan dan orang-orang tua; (3) Tidak boleh menebang pohon yang sedang berbuah; (4) Tidak boleh menghancurkan bangunan-bangunan yang vital (HR. Ahmad).

Dari keterangan ayat dan hadis tersebut dapat dipahami, perang itu terpaksa dilakukan, apabila diserang terlebih dahulu, atau dizalimi, atau diusir dari kampung halaman, itu pun tujuannya untuk menuju perdamaian. Dan tidak ada satu pun ayat, yang memerintahkan membunuh orang kafir zimmi (tidak menyatakan perang kepada orang Islam), atau menghancurkan tempat ibadah, dan tempat keramaian yang dipergunakan oleh masyarakat banyak.

Yaumul Marhamah

Ketentuan ayat dan hadis di atas, pernah dibuktikan oleh Rasulullah saw., ketika Rasul pernah diusir dari Makkah dan kembali lagi setelah beberapa tahun kemudian, dengan membawa pasukan yang besar, Rasul memasuki kota Makkah dengan aman, tentram dan damai, serta tidak melakukan balas dendam, terhadap musuh-musuh yang pernah mengusir dan menyiksa kaum muslimin. Terkenal dalam sejarah dengan istilah “yaumul marhamah” (hari pengampunan). Dan akhirnya dengan kasih sayang, serta moral yang tinggi, dari Rasulullah beserta sahabatnya, membuat kafir kuraisy berbondong-bondong berpindah memeluk Islam, agama “rahmatan lil alamin” (QS. Al-Nashr). Demikianlah fakta sejarah, yang diakui kawan maupun lawan, bahwa Islam disyiarkan bukan dengan pedang (kekerasan), tetapi dengan dakwah yang ramah tamah, bijaksana dan lunak.

Berdasarkan syarahan (keterangan) Alquran dan Sunnah di atas, maka dapat kita pahami, bahwa makna jihad yang benar adalah, berjuang dengan sungguh-sungguh, dalam mencapai suatu cita-cita, dan tidak selalu berarti perang. Jihad terkadang berarti ibadah, kadang berarti menuntut ilmu, kadang berarti mengurus kemaslahatan umat. Sedangkan yang berarti berperang adalah qital, itupun dilakukan dengan sangat terpaksa dengan tujuan perdamaian. Maka jihad tidak pernah sekalipun memerintahkan bunuh diri, dan berbuat teror kepada orang-orang yang tidak berdosa, serta tidak pernah memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan vital, yang berguna bagi khalayak umum.

Tentang ramliaw

fisabilillah dijalan Allah swt
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s