KUALITAS PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


Oleh: Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Kondisi Pendidikan di Indonesia
Kita perlu menyadari bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Keadaan umat Islam di Indonesia dapat menjadi tolok ukur bagi keadaan umat Islam di dunia. Maju mundurnya suatu bangsa saat ini sangat tergantung kepada kualitas pendidikannya dan penguasaan sains dan teknologi. Ternyata jumlah rakyat Indonesia yang memiliki kesempatan mengecap pendidikan tinggi hanya 3%. Sementara di negara-negara maju, penduduknya yang berusia masa belajar di perguruan tinggi berkisar antara 50%-80%. Mutu pendidikan kita juga sangat memperihatinkan. Institut Teknologi Bandung (ITB) hanya menempati peringkat 15 di Asia. Universitas Gajah Mada (UGM) pada peringkat 40 di Asia. Beberapa waktu lalu, sebuah data menyebutkan bahwa kondisi fisik sekolah di Indonesia 45% tidak layak pakai. Banyak data yang menunjukkan bahwa kondisi fisik dan kelayakan guru di bawah standar. Seorang dokter dari Medan mengikuti Konferensi Dokter sedunia di Athena. Berbagai peralatan medis dipamerkan dalam konferensi itu. Salah satunya adalah alat operasi jantung tanpa bedah, hanya cukup melalui alat yang dimasukkan ke dalam tubuh. Alat itu bekerja dengan dikendalikan melalui alat monitor dari luar tubuh. Menurut keterangannya, di Medan belum ada rumah sakit yang mampu membeli alat tersebut karena mahalnya. Jika alat itu dapat dibeli, maka kita harus mengirim dokter ke luar negeri selama 2 tahun untuk belajar cara menggunakannya. Karena itu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia hanya menempati peringkat 102 sesudah Vietnam. Padahal Vietnam adalah negara yang merdeka jauh di belakang Indonesia. Jumlah penduduknya pun jauh lebih kecil dari Indonesia. Tapi mereka mampu meraih banyak medali pada Olimpiade-olimpiade Matematika.

Bahasa adalah pintu ilmu. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin banyak pula pintu ilmu yang dimiliki seseorang. Ternyata kita ketinggalan dalam penguasaan bahasa ini. Banyak sarjana kita yang sama sekali tidak menguasai bahasa asing. Bahkan, tidak sedikit orang Indonesia yang sudah memperoleh jenjang pendidikan yang tinggi, tetapi tidak satu pun bahasa asing yang dikuasainya. Tidak bahasa Inggris, tidak bahasa Arab dan tidak bahasa Perancis. Padahal di negara lain jarang sekali orang yang menyandang gelar akademis yang tinggi yang tidak menguasai bahasa asing. Di Tunisia, banyak siswa setingkat SMU yang menguasai 4-5 bahasa, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahasa Spanyol, dan bahasa Jepang.
Demikian juga kepakaran dan penguasaan ilmu pengetahuan di dunia,. Israel (Yahudi) 16.000/sejuta orang, USA (Kristen) 6.500/sejuta orang, Jepang (Budha) 6.500, Uni Sovyet (Atheis) 5.000, Perancis (Kristen) 4.500, Belanda (Kristen) 4.500, Inggris (Kristen) 3.200, Jerman (Kristen) 3.000, India (Hindu) 1.300, Mesir (Islam) 367, dan Indonesia (Islam) 64 orang masing-masing persejuta.
Demikian juga ketertinggalan umat dalam penguasaan informasi alam maya. Penguasaan dan pengendalian informasi dunia sekarang ini berada di tangan penguasa internet. Pengguna internet online terbesar adalah AS, diikuti Cina, Jepang, Jerman, kemudian Inggris. Di posisi ke-6, Korea Selatan disusul Perancis, Kanada, Italia, dan India. Selanjutnya melengkapi 15 negara terbesar pengguna internet adalah Brazil, Spanyol, Belanda, Rusia, dan Australia. Tidak ada negara Islam yang masuk daftar apalagi Indonesia. Ini ketertinggalan umat dari aspek SDM ilmu pengetah dan penguasaan alam maya.

B. Kualitas Pendidikan Islam di Indonesia
Secara khusus, dan tidak kurang pentingnya orang yang benar-benar menguasai ilmu-ilmu agama Islam pun tidak banyak. Khusus di Sumatera Utara para ulama telah kembali ke hadirat Allah semakin hari terasa kelangkaan ulama yang fatwanya dapat dipegang. Ustaz Arifin Isa, Ustaz Hamdan Abbas, Ustaz H. Fuad Said, Drs. Tengku Ali Muda, dan Prof. Dr. Lahmuddin Nasution M.Ag sudah tiada. Di Langkat dulu banyak ulama seperti Syekh Afifuddin, Syekh Abdurrahim Abdullah, Ustaz H. Ahmad Ridwan, Ustaz Baharuddin Ali, dan Ustaz Amaruddin Ali. Depan Masjid Azizi Tanjung Pura disebut kampung mujtahid karena banyaknya orang alim di sana. Demikian juga di Tanjungbalai Asahan, Tapanuli Selatan, dahulu banyak ulama. Sekarang kita sudah sulit mencari pengganti mereka. Sekarang semua merasakan kelangkaan ulama. Depag, Perguruan Tinggi Agama dan MUI di mana-mana menyimpan perasaan atas kelangkaan ulama.
Pada tahun 1975 lahir SKB Tiga Menteri tentang madrasah di Indonesia. SKB ini mencoba meregulasi madrasah secara integral-komprehensif. Sejak itu, madrasah mengalami perubahan orientasi dari sekedar mencetak bibit ulama yang hanya menguasai ilmu-ilmu agama kepada upaya memproduk lulusan yang menguasai ilmu-ilmu umum dari ilmu-ilmu Agama yang memadai. Ternyata, SKB ini telah mengubah madrasah menjadi sekolah umum plus madrasah. Penguasaan ilmu Agama melemah dan penguasaan ilmu umum pun menjadi tanggung. Selama lima pelita berikutnya, kualitas madrasah bisa dipukul rata menghasilkan lulusan yang lemah basic competence agamanya, demikian juga lemah penguasaan ilmu umumnya. Karena itu, lulusannya otomatis dimarginalkan.
Sesudah meletusnya reformasi 1998, madrasah mendapat kesempatan untuk ikut bergulir bersama arus perubahan. Posisinya yang dimarjinalkan selama Orba menuntut keadilan. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menempatkan madrasah ekuivalen dengan sekolah umum termasuk dalam perlakuan anggarannya. Sekarang, madrasah memiliki jurusan-jurusan yang dimiliki SMU, yaitu IPA, IPS, dan IPB. Bedanya, di madrasah ada jurusan MAPK (jurusan Agama). Sistem ujiannya sama dengan ujian SMU. Pada UAN 2001/2002, diuji 7 mata pelajaran untuk IPA dan 6 mata pelajaran untuk IPS termasuk mata pelajaran Agama. Pada UAN 2002/2003 diuji 3 mata pelajaran dengan tambahan mata pelajaran ekonomi untuk IPS, sedangkan mata pelajaran Agama tidak masuk. Mata pelajaran Agama cukup dengan ujian sekolah. Pada UAN yang selanjutnya disebut UN 2003/2004 semua mata pelajaran diujikan, termasuk mata pelajaran Agama. Pada UN 2004/2005 diuji 3 mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Mata pelajaran Agama cukup dengan ujian sekolah. Inilah menjadi acuan semua madrasah, negeri maupun swasta, termasuk pesantren dan pondok.
Sejauh ini, terlihat bahwa madrasah mengalami pergeseran yang sangat signifikan dalam fungsi dan arah alumninya. Madrasah sekarang tidak lagi berfungsi menyiapkan bibit atau kader ulama. Obsesi alumnya pun tidak melanjutkan studi ke PT Agama, tetapi ke PT Umum. Ini mendukung asumsi terdahulu.
Untuk melihat lebih jauh kebenaran asumsi di atas, berikut ini akan dilakukan telaah terhadap silabus serta struktur kurikulum madrasah Tsanawiyah dan Aliyah dengan membandingkannya dengan kurikulum madrasah lama. Bahkan, struktur Ibtidaiyah juga akan ditinjau. Telaah ini dimaksudkan untuk melihat gambaran umum bagaimana prediksi penguasaan Agama lulusan pesantren dan madrasah sekarang. Dengan gambaran ini nanti, masyarakat akan melakukan usaha yang tepat dalam mengantisipasi kelangkaan ulama yang sedang dihadapi sehingga umat Islam tidak kehilangan pegangan.
Para ulama itu adalah hasil lembaga pendidikan. Indonesia memiliki dua macam pendidikan Agama, yaitu madrasah dan pesantren. Dahulu, tidak dikenal apa yang namanya IAIN atau perguruan tinggi Agama. Dahulu, pendidikan Agama yang paling tinggi adalah pesantren dan madrasah Aliyah. Tapi, mereka para ulama yang dikenal adalah alumni pesantren dan madrasah-madrasah lama. Sekarang, sarjana Agama menjamur, tapi-maaf-mana sarjana yang ulama. Berarti, model pesantren dan madrasah lama lain dari model pesantren dan madrasah sekarang.
Dari sudut fisik, manajemen, metode mengajar, dan finansial, pesantren dan madrasah sekarang jauh lebih maju daripada yang lama. Ini adalah bagus. Tapi, dari sudut tujuan pesantren dan madrasah sekarang tidak bagus. Tujuan pesantren dan madrasah lama memproduk lulusan yang mampu membaca kitab Arab dan menguasai ilmu-ilmu Agama. Tujuan pesantren dan madrasah sekarang adalah memproduk lulusan yang bisa masuk ke perguruan tinggi umum dan Agama serta dapat diterima bekerja sesuai kebutuhan pasar. Karena itu, silabus dan kurikulumnya dicocokkan dengan kebutuhan pasar. Yang dibutuhkan pasar adalah keterampilan komputer, kemampuan matematika, dan bahasa Inggris, bukan ilmu agama.
Untuk melihat gambaran yang lebih jelas tentang perbedaannya dapat dilihat dari alokasi waktu pelajaran dan materinya. Sebelum lahirnya madrasah SKB Tiga Menteri, di SU bertebaran madrasah Al-Washliyah. Hampir di setiap desa ada madrasah Ibtidaiyah Al-Washliyah, di setiap kecamatan ada madrasah Tsanawiyah dan Aliyahnya. Yang disebut madrasah Ibtidaiyah Al-Washliyah tujuannya adalah mengajarkan ilmu-ilmu Agama murni. Karena itu seluruh mata pelajarannya adalah Agama dan bahasa Arab serta seluruh waktunya digunakan untuk belajar Agama dan bahasa Arab. Mata pelajaran favoritnya adalah nahu, saraf, fikih dan tauhid. Kitab-kitabnya adalah Matn al-Ajrumiyah, Mukhtashar Jiddan, dan al-Kawakib ad-Durriyah untuk nahu; Matn al-Bina, Matn al-‘Izi, dan al-Kailani untuk saraf; al-Ghayah wa at-Taqrib dan Fath al-Qarib untuk fikih; Kifayah al-Mubtadi dan Kifayah al-‘Awwam untuk tauhid, Tuhfah ats-Tsaniyah untuk faraid, terjemah Juz ‘Amma untuk tafsir, Matn al-Arba’in an-Nawawiyah untuk hadis, Khulashah Nur al-Yaqin untuk tarikhnya, al-Akhlaq li al-Bani untuk akhlak, dan Ilmu Tajwid. Inilah semua pelajarannya, surat-surat pendek wajib hafal, hadis wajib hafal, sebagian matan nahu dan saraf wajib hafal, dan setiap fi’l harus bisa ditashrif kepada 67 kata. Sekarang apakah masih ada madrasah model ini di SU? Ini dapat dibandingkan dengan struktur kurikulum madrasah Ibtidaiyah yang sekarang.
Struktur Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah sekarang pelajaran Agamanya ada empat yaitu Alquran dan Hadis, Akidah dan Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ditambah pelajaran bahasa Arab. Masing-masing pelajaran Agama dua jam yang berarti delapan jam ditambah bahasa Arab tiga jam. Seluruhnya berarti sebelas jam perminggu. Pelajaran lain adalah Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial lima jam, bahasa Indonesia lima jam, Matematika lima jam, Pengetahuan Alam empat jam, Kerajinan Tangan dan Kesenian empat jam, Pendidikan Jasmani tiga jam. Kegiatan khusus dan muatan lokal diatur sendiri oleh madrasah. Contoh ini menunjukkan 37 jam pelajaran. Sebenarnya, total alokasi waktu tatap muka per minggu adalah 32 jam yang untuk Agama sebesar 20%. Buku-buku pelajaran Agamanya berbahasa Indonesia.
Madrasah Tsanawiyah Al-Washliyah lama pada dasarnya bertujuan mengajarkan ilmu-ilmu Agama, termasuk di dalamnya bahasa Arab sebagai alat mutlak untuk membaca kitab-kitab pelajarannya. Karena itu, semua pelajaran Agama dan bahasa Arab menjadi pelajaran pokok, sedang pelajaran umum sebagai pelengkap dan cenderung disepelekan. Kitab-kitabnya adalah Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyah untuk nahu, saraf, balaghah, dan ilmu bayan; al-Hushun al-Hamidiyah untuk tauhid, Tuhafah ath-Tullab untuk fikih, al-Jalalain untuk tafsir, Bulugh al-Maram untuk hadis, Manthiq Nur al-Ibrahimi untuk ilmu mantik; ‘Izah an-Nasyiin untuk akhlak, al-Lubab untuk ilmu faraid. Ushul al-Fiqh karya H. Arsyad Thalib Lubis, al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya penulis yang sama, Ikhtishar Mushthalah al-Hadits karya H. Arsyad Thalib lubis untuk mustalah hadis, dan Nur al-Yaqin untuk tarikh.
Pelajaran umumnya adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, geografi, sejarah, biologi, ekonomi, kesenian dan olah raga. Untuk masing-masing dialokasikan waktu sekedarnya karena statusnya yang dipandang sebagai pelengkap. Sebagai bahan perbandingan dengan madrasah Tsanawiyah sekarang dapat dilihat pada Struktur Kurikulum Madrasah Tsanawiyah berikut.
Mata Pelajaran Madrasah Tsanawiyah sekarang adalah Alqruan dan Hadis dua jam, Akidah dan Akhlak dua jam, Fikih dua jam, SKI dua Jam, ditambah dengan bahasa Arab tiga jam. Bahasa dan Sastra Indonesia lima jam, Bahasa Inggris empat jam, Matematika lima jam, Pengetahuan Alam lima jam, Pengetahuan Sosial dan Pendidikan Kewarganegaraan lima jam, Kesenian dua jam, Pendidikan Jasmani dua jam, Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi dua jam. Total seluruhnya 41 jam. Jika total jam pelajaran Agama termasuk bahasa Arab berjumlah 11 jam, maka ini berarti 26,82%. Buku-buku pelajaran Agamanya dalam bahasa Indonesia, tidak menunjang kemampuan baca kitab Arab.
Madrasah Aliyah Al-Washliyah juga bertujuan mengajarkan ilmu-ilmu Agama dan membina kader ulama. Bahkan, Aliyah inilah yang dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan Agama tertinggi di Indonesia. Perguruan Tinggi Agama lahir kemudian jauh sesudah kemerdekaan. Karena itu, kitab-kitab yang dipelajari di sini banyak yang sama dengan kitab-kitab yang dipelajari di sini banyak yang sama dengan kitab-kitab yang dipelajari di Al-Azhar, Kairo.
Kitab-kitab yang dipelajari di Madrasah Aliyah lama adalah Syarh Ibn ‘Aqil untuk nahu, al-Mahalli atau I’anah ath-Thalibin untuk fikih, al-Luma’ untuk usul fikih, al-Asybah wa an-Nazair untuk usul fikih, Syarh ad-Dusuqi untuk tauhid, Itmam al-Wafa’ untuk tarikh, Mau’izah al-Mu’mimin untuk akhlak, Tafsir al-Jalalain untuk tafsir, Subul al-Salam atau Jawahir al-Bukhari untuk hadis, Matn al-Baiquniyah untuk mustalah hadis, al-Adyan untuk perbandingan Agama, dan SKI.
Pelajaran umumnya antara lain adalah matematika, ekonomi, dan kesenian. Namun, statusnya tetap dipandang sebagai pelengkap, bukan pokok. Ini adalah madrasah sistem reguler.
Struktur kurikulum Madrasah Aliyah jurusan IPS untuk kelas II, Alquran dan Hadis dua jam, Akidah dan Akhlak dua jam, Fikih dua jam, SKI satu jam (di kelas dua tidak ada SKI, di kelas III dua jam) ditambah bahasa Arab tiga jam. Pelajaran lain adalah Pendidikan Kewarganegaraan tiga jam, Bahasa dan Sastra Indonesia empat jam, Bahasa Inggris empat jam, Matematika empat jam, Sejarah tiga jam, Geografi empat jam, Ekonomi enam jam, Sosiologi lima jam, Teknologi Informasi dan Komunikasi tiga jam. Total keseluruhan 45 jam. Jika alokasi waktu untuk pelajaran Agama ditambah dengan bahasa Arab 10 jam, maka total alokasi waktunya sama dengan 22,22%. Sementara buku-buku pelajarannya dalam bahasa Indonesia, tentunya tidak menunjang bagi kemampuan membaca literatur asli Agama.
Selain jurusan IPS, terdapat jurusan Ilmu Alam, Bahasa, Kejuruan, dan Ilmu Agama. Pada jurusan Ilmu Agama ini semua mata pelaharan di atas diajarkan. Kemudian ditambahkan pula Tafsir dan Ilmu Tafsir empat jam, Ilmu Hadis tiga jam, Usul Fikih empat jam, Tasawuf dua jam, dan Ilmu Kalam dua jam. Berarti, jumlah jam pelajaran Agama sepuluh ditambah lima belas jam sama dengan 25 jam. Dari sudut bidang dan waktu, jurusan ini sudah bagus. Tetapi, masalahnya dari mana calon siswanya.
Materi pelajaran untuk Tafsir-Hadits, Akidah Akhlak, dan Fikih pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah SKB dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan silabus madrasah lama. Demikian juga, materi SKI madrasah SKB dapat juga dikatakan sepadan dengan pelajaran Tarikh pada madrasah lama. Bahasa Arab pun demikian halnya. Namun, banyak faktor yang membuat perbedaan besar antara madrasah lama dengan madrasah SKB dalam produknya. Pada madrasah SKB mata pelajaran lain dan buku-buku yang digunakan tidak mendukung mata pelajaran Agama. Status pelajaran Agama pada madrasah SKB selalu dinomorduakan. Sisdiknas yang memberi peluang yang sama kepada lulusan madrasah dan SMU untuk masuk PT umum memotivasi siswa madrasah untuk menguasai mata pelajaran umum daripada Agama agar masuk lulus masuk ke PT umum, bukan ke PT Agama.

C. Upaya Memajukan Pendidikan
Pertama sekali adalah menumbuhkan kesadaran, baik anak didik dan mahasiswa maupun orang tua dan para pendidik bahwa bangsa Indonesia tertinggal dalam bidang pendidikan dibanding dengan bangsa-bangsa lain, termasuk negara-negara tetangga. Kita harus sadar akan keadaan ini dan harus memiliki kemauan untuk bergerak mengejar ketertinggalan tersebut.
Dalam kurun waktu yang panjang, Yahudi dalam keadaan lemah, diburu, dan terlunta-lunta. Bahkan, merekqa sempat mengalami penyiksaan dan perburuan. Merekqa sadqar akan kelemahan mereka. Mereka melakukan rapat-rapat rahasisa. Mereka bertekad untuk maju. Dengan segala daya dan dana, mereka membangkitkan semanagat generasi mudanya untuk belajar sungguh-sungguh. Setelah lebih enam puluh tahun, mereka berhasil menguasai ilmu, umat mereka berkualitas dan secara pelan tapi pasti mereka bergerak dalam bisnis dan politik. Akhirnya mereka mampu mencaplok Palestina dan membangun pabrik-pabrik persenjataan dan berhasil menghijaukan padang pasir Palestina menjadi pertanian yang subur.Membangkitkan kesadaran dan kemauan untuk berjuang menguasai ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di masa depan.
Kemudian, penguasaan bahasa asing adalah suatu ciri kemajuan dan kemoderenan. Tanpa penguasaan bahasa asing wawasan seseorang menjadi sangat terbatas. Tetapi bangsa Indonesia ketinggalan dalam bahasa. Banyak faktor yang menyebabkannya. Antara lain adalah bahwa usaha untuk menguasai bahasa asing di negeri kita sangat rendah, baik dari kalangan siswa maupun pemerintah. Siswa malas belajar. Pemerintah pun belum melakukan upaya maksimal. Di Korea Selatan ada perkampungan Inggris. Orang boleh tinggaldi sana satu malam, seminggu atau berapa lama maunya dengan bayaran tertentu. Sebaiknya pemerintah melakukan ini. Namun, swasta pun bisa membuatnya.
Belajar bahasa khususnya tidak mungkin tanpa menghafal. Mustahil hafal dengan membaca paragraf dua tiga kali. Harus dengan menghafal 7-9 kali setiap kata serta membayangkan tulisannya. Harus ada waktu setiap hari mempraktikkannya. Belajar bahasa harus “gila” baru berhasil. Belajar bahasa mesti praktik, kalau perlu bicara sendiri.
Mengenai peningkatan kualitas ilmu juga harus ada upaya yang lebih daripada yang biasa dilakukan. Misalnya, waktu belajar harus ditingkatkan. Waktu menonton TV harus dibatasi. Cara belajar juga harus lebih bagus dan sungguh-sungguh. Hal ini banyak tergantung kepada kemauan siswa. Orang tua juga harus meningkatkan fasilitas dan pengawasa. Buku-buku, RPUL, kamus-kamus, dan bahkan ensiklopedi-ensiklopedi pengetahuan disediakan semaksimal mungkin. Kalau mungkin kamus dan rumus dengan system elektronik juga diadakan sehingga siswa terangsang untuk belajar.
Semangat baca harus ditingkatkan. Berdasarkan perbandingan oplah Koran, di Indonesia 1 koran banding 40 penduduk, di Malaysia 1 koran banding 8 penduduk, di Singapura 1 koran banding 2 penduduk, di Jepang 3 koran banding 1 penduduk. Ini menggambarkan betapa rendahnya semangat baca di Indonesia.
Belakangan ini dikembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Artinya, sejak semula diketahui apa kemampuan yang dimiliki anak didik dari mata pelajaran yang diajarkan. Sementara dalam persaingan dunia global, kecepatam mendapatkan informasi, kemampuan berkomunikasi secara luas, dan penggunaan teknologi sangat dituntut. Karena itu, KBK sudah tidak relevan lagi. Orang sudah mengembangkan Kurikulum Berbasis ICT, yaitu Information, Communication, and Technology. Permasalahannya untuk Indonesia adalah ketidakmampuan menyediakan fasilitas, baik pemerintah maupun swasta. Namun, ini harus diupayakan. Jika tidak, pendidikan Indonesia pasti semakin ketinggalan. Allah menyuruh kita berlomba-lomba dan bersaing untuk kebaikan (QS, al-Baqarah:48)
Selain itu, kejujuran, keikhlasan harus dibangun dalam diri masing-masing. Orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai dalam persaingan kehidupan modern di masa akan datang akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Lahan semakin sempit dan harganya pun semakin melambung. Bahkan, kerja kasar pun sulit mendapatkannya. Karena itu, menuntut ilmu sekarang sudah semakin wajib dibanding dengan masa lalu.
Demikian juga menuntut ilmu Agama sekarang semakin wajib. Tanpa ilmu yang cukup tentang Agama, sekarang orang mudah dipengaruhi oleh paham-paham sesat yang semakin hari semakin banyak. Karena kedangkalan ilmu Agama, maka ada orang yang menjadi pengikut yang mengaku Imam Mahdi, seperti yang di Labuhan; menjadi pengikut yang berteman dengan Malaikat Jibril, seperti yang di Marelan; menjadi pengikut yang mengaku Wali dan mengajarkan bahwa tidak ada rukun Islam, salat hanya satu waktu, dan puasa tidak wajib, seperti yang di Serdang Bedagai. Menjadi pengikut Nabi dan Rasul palsu, bahkan menjadi pengikut manusia yang mengaku Tuhan. Orang-orang yang tidak paham Alquran dan Hadis, tidak memiliki ilmu tentang ajaran Islam, tidak mengetahui perbedaan bisikan malaikat dan setan, dan tidak mengetahui keluasan ilmu para imam mazhab dan ulama serta sejarah mereka, akan mudah terpengaruh dengan paham-paham sesat yang meringan-ringankan ajaran Agama. Orang sekarang mencari agama yang enak. Kalau ada paham agama yang menghalalkan zina, menghalalkan judi, minum khamar, dan mencuri, pasti ramai pengikutnya. Hal yang bisa menangkalnya adalah Ilmu Agama yang memadai.

D. Urgensi Pendidikan Kader Ulama
Sekarang semua merasakan kelangkaan ulama. Departemen Agama, Perguruan Tinggi Agama, dan MUI di mana-mana menyimpan perasaan cemas atas kelangkaan ulama. Sekarang sulit mencari orang yang mampu membaca kitab Arab gundul. Lebih sulit lagi mendapatkan orang yang pandai membaca kitab kuning, menguasai ilmu-ilmu Agama serta warak dalam mengamalkan ilmunya. Mungkin ada orang yang mampu membaca kitab kuning, tapi pahamnya menyeleneh atau akhlaknya tidak sesuai dengan ilmunya. Semua itu bukanlah ulama yang bisa jadi panutan.
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan dalam kitabnya, Ushul al-Fiqh al-Islami, jilid II, halaman 1162 bahwa bolehnya meminta fatwa Agama itu kepada orang yang dikenal sebagai ahli ilmu dan memiliki kemampuan berijtihad, dikenal beragama, warak, dan adil. Beragama berarti menjalankan Agamanya dengan baik; warak berarti meninggalkan yang syubhat dan hati-hati dalam memelihara amalnya; dan adil berarti taat memenuhi kewajiban Agama dan menjauhi kemaksiatan.
Dalam rangka mengatasi kelangkaan ulama ini, sejak tahun 1980-an di beberapa daerah telah lahir lembaga pengkaderan ulama, seperti Pendidikan Kader Ulama (PKU) program non-gelar selama tiga tahun oleh Yayasan Islamic Center di bawah pimpinan H. Abdumanan S. dan kemudian PKU program satu semester yang dikelola oleh MUI Tk. I SU yang kedua lembaga ini berada di Medan. MUI Kota Medan juga telah menyelenggarakan PKU yang sekarang angkatan III dan pesertanya diseleksi dari alumni S1 dengan program satu semester. Sejak lama di Jakarta berlangsung PKU dengan program-program khusus. MUI Tk. I SU sejak November 2006 membuka PKU program tiga tahun dengan sistem belajar full time dari pagi sampai sore dan ditambah belajar waktu Subuh dan malam hari. Salah satu hasil Rakorda MUI SU yang berlangsung pada tanggal 9-10 di Sidimpuan adalah perlunya menyelenggarakan pendidikan kader ulama di seluruh daerah di SU.
Berbagai model PKU telah dilaksanakan di berbagai tempat. Di antara model yang dapat dikatakan berhasil adalah PKU program tiga tahun yang pesertanya direkrut dari alumni pesantren dan madrasah Aliyah dengan sistem asrama dan belajar full time, pagi, siang, sorem malam dan subuh. Jumlah pesertanya 20 orang saja.
a. Tujuan
PKU bertujuan menyiapkan kader ulama yang menguasai ilmu-ilmu Agama melalui kitab kuning, baik yang klasik maupun modern. PKU bermaksud mencetak para AHLI AGAMA, PENGAMAL AGAMA, DAN PEMBELA AGAMA, terutama menurut paham Ahli Sunnah wal Jamaah. Alumninya diharapkan mampu memper-tahankan ajaran Islam yang benar dan menangkis segala paham yang menyimpang berdasarkan dalil-dalil Alquran dan Hadis dengan metode ilmiah serta kaedah-kaedah yang dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
b. Kompetensi
Ustaz yang menguasai ilmu-ilmu dasar Agama dalam bidang akidah, syariah, akhlak secara integral dengan kaedah-kaedah klasik dan didukung dengan metodologi ilmiah modern serta mampu mengkomunikasikannya kepada masyarakat dan menerapkannya dalam kehidupan modern.
c. Indikator Kompetensi
1. Hafal sekurang-kurangnya 3 juz Alquran
2. Hafal sekurang-kurangnya 60 hadis
3. Mampu mengajarkan kitab kuning, khutbah, dan ceramah dengan baik
4. Mampu menulis makalah dan artikel keagamaan
5. Mampu dan sabar berdialog secara rasional
d. Kurikulum dan Silabus
Kurikulum terdiri dari pengkajian kitab kuning, hafalan, metodologi modern, dan praktikum.
Kitab kuning meliputi bidang tauhid/akidah/aliran-aliran yang antara lain Tuhfah al-Murid, al-Farq bain al-Firaq; bidang fikih Fath al-Mu’in, I’anah ath-Thalibin, dan al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh; bidang usul fikih, Ushul al-Fiqh karya ‘Abd adl-Wahhab Khallaf; bidang qawaid fikih, al-Asybah wa an-Nazair karya as-Suyuthi; bidang faraid Tuhfah ats Tsaniyah dan Syarh Matn al-Rahbiyah; bidang tafsir, Tafsir al-Maraghi dan al-Qurthubi; bidang hadis, Al-Arba’in an-Nawawiyah; Subul as-Salam, dan Fath al-Bari; bidang ilmu Alquran, yaitu Mabahits fi ‘Ulum al-Quran karya Manna’ al-Qaththan; bidang ilmu hadis, Ushul al-Hadits karya M. ‘Ajjaj al-Khatib; bidang takhrij, Ushul at-Takhrij karya Mahmud ath-Thahhan; bidang tasawuf dan akhlak, Mau’izah al-Mu’minin dan Ihya’ ‘Ulum ad-Din; bidang nahu, Syarh al-Kafrawi, al-Kawakib ad-Durriyah dan Alfiyah Ibn Malik; bidang saraf, al-Kailani.
Kurikulum dan silabus yang dikemukakan ini merupakan garis besar. Silabus tidak harus ditetapkan secara kaku, tetapi disesuaikan dengan kemampuan pesertanya. Kitab-kitab kecil yang bersifat pengenalan, seperti Matn al-Ghayah wa at-Taqrib, Matn al-Ajrumiyah, dan Matn al-Bina wa al-Asas diajarkan juga bila pesertanya ada yang lemah dalam bahasa Arab. Jika semua pesertanya sudah standar, kitab-kitab kecil tidak perlu dimasukkan lagi. Sebaliknya dapat dimasukkan kitab-kitab yang besar, seperti kitab al-Majmu’ dan Hasyiyah al-Khudari. Kemudian, kitab-kitab yang besar tidak mungkin ditamatkan, tetapi cukup dengan membaca bagian-bagian penting agar peserta terlatih memahami ‘ibarah kitab tersebut.
Selain sistem PKU, pengkaderan ulama dapat juga dilakukan melalui pembentukan grup-grup kecil di pesantren dan madrasah. Pesantren menyeleksi bibit-bibit unggul yang memiliki minat untuk menjadi ulama. Mereka diberikan pelajaran tambahan khusus, terutama bimbingan membaca kitab-kitab Agama yang berbahasa Arab. Mereka diberikan dorongan dan fasilitas sehingga bersemangat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diprogramkan.
Kemudian, pengiriman mahasiswa ke Timur Tengah juga merupakan satu usaha lain dalam rangka menciptakan ulama. Sebab, belajar di Timur Tengah sudah jelas dengan bahasa Arab. Penguasaan bahasa Arab merupakan satu modal besar untuk menjadi ulama. Jika mereka berkemauan mengambangkan diri dengan banyak membaca literatur Agama dan menghayatinya, mereka sangat berpotensi menjadi ulama.

Tentang ramliaw

fisabilillah dijalan Allah swt
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke KUALITAS PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

  1. junaidi berkata:

    Ini harus menjadi pusat perhatian umat muslim didunia, dmana pelajaran agama islam sudah sangat memperihatinkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s