METODE PENELITIAN SANAD HADIS


Oleh : DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA

A. Pendahuluan
Usaha untuk membedakan antara hadis sahih dari hadis daif pada dasarnya dilakukan melalui dua aspek, yaitu aspek sanad dan aspek matan. Pembahasan dalam tulisan ini khusus mengenai penelitian Hadis dari aspek sanad yang dike-nal dengan sebuatan takhrij atau penelitian langsung terhadap kualitas sanad. Sa-nad adalah rangkaian nama para periwayat dari satu hadis, mulai dari sahabat sebagai generasi pertama menerimanya langsung dari Rasul saw., tabii sebagai generasi yang menerimanya dari sahabat sampai kepada orang yang membuku-kannya, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah.

Penelitian sanad hanya dapat dilakukan setelah menemukan matan hadis leng-kap dengan semua jalur periwayatannya. Salah satu kegiatan penting dalam pene-litian sanad adalah penyelidikan terhadap setiap periwayat dari seluruh jalur hadis yang diteliti dengan cermat sehingga status riwayatnya dapat ditetapkan sebagai riwayat yang diterima atau ditolak.
Seleksi terhadap hadis sahih telah dilakukan secara alamiah sejak awal Islam. Akan tetapi, penelitian sanad secara sistematis, metodologis, kritis, dan terbuku-kan merupakan ilmu yang baru lahir pada abad XX. Sejauh ini, buku terbaik da-lam takhrij adalah buku Usul at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid karya Dr. Mahmud at-Tahhan. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia adalah buku Metodologi Penelitian Hadis Nabi karya Prof.Dr. M. Syuhudi Ismail. Sebagai ilmu yang baru, pembahasannya perlu di-kembangkan dan disempurnakan. Misalnya, cara mencari nama lengkap dari seo-rang periwayat, cara mencari nama periwayat yang di dalam sanad hanya dise-butkan nisbahnya, cara penyelesaian penilaian kontradiktif oleh para kritikus ha-dis, dan cara penetapan nilai seorang periwayat siqah, tapi dalam waktu yang sama ia juga mudallis semuanya perlu dibahas dan dijelaskan. Meskipun seba-giannya ada yang sudah dijelaskan dalam buku Fikih Sunnah dalam Sorotan karya Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, namun sifatnya masih sangat terbatas. Di sinilah urgensinya kajian tentang metodologi penelitian sanad dibahas dan didis-kusikan sehingga menjadi lebih sempurna. Khusus bagi intelektual Islam di SU, ilmu ini dapat disebut sebagai ilmu yang baru diperkenalkan. Karena itu, pemba-hasan ini sungguh penting.
Pada pokoknya, dalam makalah ini akan dibahas dasar-dasar penelitian sanad, langkah-langkah penelitian sanad, dan masalah-masalah yang ditemukan dalam penelitian sanad serta penyelesaiannya.

B. Kaedah Kesahihan Sanad
Tujuan akhir dari kegiatan penelitian sanad adalah membedakan hadis-hadis yang dapat dijadikan hujah dari hadis-hadis yang tidak dapat dijadikan hujah. Hadis-hadis yang dapat dijadikan hujah adalah hadis sahih dan hadis hasan. Per-bedaan hadis sahih dengan hadis hasan terletak pada keadaan hafalan periwayat. Periwayat hadis sahih harus cukup kekuatan hafalannya yang dalam bahasa Arab disebut dabit, sedangkan untuk periwayat sanad hadis hasan hafalannya kurang sempurna yang dalam bahasa Arab disebut khafif ad-daft atau qalil ad-dabt.
Sanad hadis sahih harus memenuhi lima syarat, yaitu (1) kebersambungan sa-nad, (2) periwayat adil, (3) periwayat dabit, (4) bebas dari syuzuz, dan (5) bebas dari `illah..Kebersambungan sanad berarti periwayatan dari setiap guru kepada muridnya dalam sanad benar terlaksana. Terlaksananya periwayatan itu diketahui melalui indikasi bahwa periwayat termasuk orang dipercaya, jarak masa hidup antara guru dan murid relatif tidak jauh sehingga memungkinkan berlangsungnya pertemuan antara keduanya, dan tidak ditemukan data atau informasi yang mene-rangkan bahwa mereka tidak bertemu. Menurut Imam al-Bukhari, kebersam-bungan sanad harus dalam bentuk liqa’ (bertemu). Maksudnya bahwa antara murid dan guru pernah bertemu. Misalnya, ada data yang menjelaskan bahwa murid pernah belajar kepada guru tersebut atau pernah sama melaksanakan haji atau pernah sama dalam sebuah bala tentara Islam. Jika data demikian tidak ditemukan, maka pertemuan antara murid dan guru dapat diketahui melalui penggunaan lafal periwayatan yang digunakan termasuk lafal sama` (dengar), seperti sami`tu, sami`na atau haddasani dan haddasana. Menurut Imam Muslim, kebersam-bungan sanad dapat diterima apabila penelitian telah sampai kepada pembuktian mu`a-sarah (kesemasaan). Kesemasaan diketahui jika periwayat dinilai terpercaya dan jarak masa hidup antara murid dan guru relatif dekat sehingga memungkinkan mereka bertemu. Misalnya, jarak masa hidup antara murid dan guru lima puluh atau tujuh puluh tahun. Pertemuan mereka masih mungkin diterima selama tidak ditemukan data yang menunjukkan bahwa mereka tidak bertemu. Sekalipun usia mereka sama, tetapi ditemukan data tentang tidak bertemunya antara mereka, maka kebersambungan antara mereka tidak dapat diterima. Untuk mengetahui masa hidup, diperlukan data tentang tahun lahir dan tahun wafat seorang periwayat. Minimal diketahui tahun wafatnya. Jika tahun wafat tidak diketahui, maka tahun waftanya dikiaskan kepada tahun wafat teman-teman sebayanya (aqran). Jika data tentang teman sebayanya tidak ditemukan, maka masa hidup-nya ditentukan berdasarkan generasinya (tabaqah).
Adil berarti salih karena melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Dabit ada dua macam, yaitu dabit sadar dan dabit kitab. Dabit sadar berarti hafalan dan dabit kitab berarti catatan rapi dan mampu menghadirkannya kapan diperlukan. Penilaian awal tentunya dilakukan para kritikus yang semasa dengan peri-wayat. Kritikus yang tidak semasa dengan periwayat mendasarkan penilaiannya kepada penilaian para kritikus awal itu. Peneliti sekarang sama halnya dengan peneliti sebelumnya, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Ahmad. Penilaian mereka berdasarkan analisis terhadap penilaian kritikus terdahulu. Peneliti sekarang juga mendasarkan penilaiannya atas analisis terhadap penilaian para kritikus sebelumnya. Karena itu, penilaian hadis yang dilakukan para ulama masa kini, seperti Muhammad Nasiruddin al-Albani, Muhammad Mustafa A`zami.

Tentang ramliaw

fisabilillah dijalan Allah swt
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s